Geger Soal Transformasi Digital, Bane Raja Manalu Singgung Peran Negara
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah mengubah cara masyarakat mengakses dan mengonsumsi informasi.
Di tengah perubahan tersebut, peran lembaga penyiaran publik menjadi semakin strategis sebagai penyampai informasi yang akurat, edukatif, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dijawab dengan langkah konkret dan terukur.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Aktor Senayan.
Transformasi Digital Bukan Sekadar Wacana
Bane menekankan bahwa digitalisasi tidak cukup dipahami sebagai pembaruan perangkat atau platform semata. Transformasi harus menyentuh pola pikir, budaya kerja, hingga strategi distribusi konten yang lebih adaptif terhadap kebutuhan publik.
Menurutnya, perubahan lanskap media terjadi sangat cepat. Jika lembaga penyiaran publik tidak mampu menyesuaikan diri, maka mereka berisiko kehilangan relevansi di tengah persaingan dengan media swasta dan platform digital global.
Ia juga menilai momentum perkembangan teknologi saat ini seharusnya dimanfaatkan sebagai peluang. Digitalisasi yang dirancang secara matang justru dapat memperluas jangkauan, meningkatkan kualitas produksi, serta memperkuat posisi media negara sebagai sumber informasi terpercaya.
Tantangan SDM dan Adaptasi Teknologi
Dalam pertemuan tersebut, Bane menaruh perhatian pada paparan mengenai tantangan sumber daya manusia dan kesiapan teknologi. Ia berpandangan bahwa hambatan yang masih bisa diatasi tidak seharusnya dianggap sebagai kendala permanen.
Kemajuan artificial intelligence dan berbagai perangkat produksi modern dinilai mampu membantu proses kreatif penyiaran. Dengan kemauan untuk belajar dan meningkatkan kompetensi, kualitas audiovisual dapat ditingkatkan tanpa harus terhambat persoalan klasik.
Ia mendorong agar lembaga penyiaran publik lebih terbuka terhadap pelatihan berbasis teknologi. Adaptasi terhadap inovasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga daya saing dalam ekosistem media yang semakin kompetitif.
Baca Juga: Langkah Baru Inosentius Samsul Setelah Batal Menjadi Hakim MK
Kritik atas Strategi Media Sosial
Selain isu teknologi, Bane menyoroti pengelolaan media sosial yang dinilai belum konsisten. Di era informasi tanpa jeda, keberlanjutan publikasi menjadi indikator keseriusan sebuah institusi dalam membangun audiens.
Ia mengingatkan bahwa media tidak mengenal hari libur. Konsistensi konten, frekuensi unggahan, serta interaksi dengan pengikut merupakan elemen penting dalam membangun kepercayaan dan loyalitas publik.
Menurutnya, banyak kanal digital independen mampu meraih jutaan pengikut berkat strategi yang terencana. Lembaga penyiaran publik dengan dukungan negara semestinya memiliki potensi yang lebih besar jika dikelola secara profesional dan berorientasi pada data.
Peran Strategis dalam Edukasi Kebijakan
Di sisi lain, Bane memberikan apresiasi atas kontribusi TVRI, RRI, dan Antara dalam mempromosikan UMKM serta program pemerintah. Namun ia menekankan bahwa fungsi edukasi kebijakan publik harus diperkuat secara lebih sistematis.
Media negara dinilai memiliki tanggung jawab menjembatani informasi antara pemerintah dan masyarakat. Tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga menjelaskan prosedur, syarat, serta mekanisme akses terhadap program seperti Kredit Usaha Rakyat dan pembiayaan ultramikro.
Masih banyak masyarakat yang belum memahami detail kebijakan tersebut. Celah informasi inilah yang seharusnya diisi oleh media publik agar kebijakan strategis benar-benar dirasakan manfaatnya oleh kelompok sasaran.
Catatan dan Harapan Komisi VII
Sebagai anggota Komisi VII DPR RI, Bane memastikan bahwa berbagai masukan dalam kunjungan kerja tersebut akan menjadi bahan evaluasi. Apresiasi tetap diberikan atas kinerja yang telah berjalan, namun perbaikan dianggap mendesak.
Ia berharap lembaga penyiaran publik mampu menyusun strategi jangka panjang yang lebih terukur. Pendekatan berbasis riset audiens, pemanfaatan teknologi mutakhir, serta penguatan kapasitas SDM perlu dirancang secara berkelanjutan.
Ke depan, media negara diharapkan tidak hanya hadir sebagai penyampai informasi formal, tetapi juga sebagai institusi yang relevan, responsif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Transformasi digital dan penguatan edukasi publik menjadi fondasi penting untuk menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat peran negara dalam ruang komunikasi nasional.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari pantau.com
- Gambar Kedua dari gesuri.id