Gerakan Patungan Beli Hutan Viral, Anggota Komisi IV DPR Sebut Sindiran Pedas
Gerakan patungan beli hutan viral di media sosial, Anggota Komisi IV DPR menilai ini sebagai sindiran pedas terhadap kebijakan pemerintah.
Gerakan patungan untuk membeli hutan kini menjadi sorotan publik dan viral di media sosial. Inisiatif ini dinilai sebagai kritik tidak langsung terhadap kebijakan pemerintah terkait pengelolaan hutan.
Anggota Komisi IV DPR menyebut aksi tersebut sebagai sindiran pedas yang menyuarakan kegelisahan masyarakat. Lantas, apa yang memicu gerakan ini, dan bagaimana tanggapan para pejabat terkait? Simak ulasan lengkapnya di Aktor Senayan.
Gerakan Patungan Beli Hutan Viral Di Media Sosial
Gerakan patungan untuk membeli hutan tengah menjadi sorotan publik dan viral di media sosial. Inisiatif ini muncul sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kerusakan hutan yang semakin parah, terutama pasca bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat deforestasi.
Pandawara Group, salah satu organisasi non-pemerintah, turut menggulirkan gerakan ini untuk mendorong perhatian lebih terhadap kelestarian alam. Beberapa figur publik, termasuk penyanyi Denny Caknan dan Vidi Aldiono, menyambut baik gerakan ini, menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam menyelamatkan hutan.
Sindiran Pedas Dari Anggota DPR
Daniel Johan, Anggota Komisi IV DPR sekaligus Ketua DPP PKB, menilai gerakan patungan beli hutan sebagai sindiran keras terhadap pemerintah. Menurutnya, aksi ini mencerminkan kekecewaan publik terhadap pengelolaan hutan yang kurang optimal, termasuk lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku penebangan liar.
Daniel menekankan bahwa gerakan ini merupakan bentuk terobosan baru, di mana rakyat mengambil inisiatif untuk menjaga dan melestarikan sumber daya alam yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Gerakan ini adalah tamparan bagi pemerintah yang terlalu mudah memberi izin konsesi tanpa pengawasan ketat.
Ide patungan berarti hutan menjadi milik rakyat, bukan semata-mata hutan negara, ujar Daniel kepada wartawan, Rabu (10/12/2025). Ia menekankan bahwa rakyat memiliki andil besar dalam melindungi hutan agar kerusakan ekologis tidak terus berlanjut.
Baca Juga: Aher Dukung Kemendagri Gelontorkan Rp59,25 T Untuk Pemulihan Sumatra
Defisit Penegakan Hukum Dan Dampak Deforestasi
Daniel juga menyoroti bahwa degradasi hutan meningkat dari tahun ke tahun, menimbulkan bencana ekologis yang merugikan masyarakat. Sayangnya, banyak pelaku penebangan hutan tidak mendapatkan hukuman yang setimpal, sehingga kerusakan tetap berlangsung.
Kondisi ini mendorong munculnya gerakan patungan beli hutan sebagai langkah alternatif untuk melindungi ekosistem. Ia mencontohkan aksi serupa yang dilakukan pendiri The North Face di Chile dan Argentina, yang membeli sekitar dua juta hektar hutan untuk dipulihkan dan dijaga agar tidak ditebang.
Menurut Daniel, langkah-langkah seperti ini dapat menjadi inspirasi bagaimana masyarakat global maupun lokal ikut berperan dalam pelestarian alam.
Seruan Bersama Untuk Kelestarian Hutan
Daniel mengingatkan bahwa hutan adalah warisan generasi mendatang. Ia berharap kebijakan pemerintah ke depan lebih berpihak pada kelestarian alam, sambil mendorong partisipasi masyarakat dalam mengawasi pengelolaan hutan.
Gerakan patungan beli hutan menjadi simbol bahwa semua pihak pemerintah dan rakyat harus bersatu dalam menjaga sumber daya alam yang tersisa. Mari semua bersatu, mengawasi kinerja pemerintah, dan memastikan hutan tetap lestari.
Hutan yang rusak saat ini adalah warisan dari puluhan tahun lalu. Kita tidak ingin kerusakan ini berulang, maka perlindungan hutan harus menjadi prioritas, pungkasnya.
Aktor Senayan serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari greenlab.co.id